Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Derita al-Quran

Perkenalkan, namaku Al-Quran. Anda pasti sudah kenal saya, secara langsung maupun tidak langsung. Saya mewarnai dunia ini sejak abad ke 7 sampai sekarang ini, dikumandangkan di seluruh pelosok dunia. Dikenal dari kolong jembatan Jakarta sampai istana raja Arabia di pegunungan Alpen. Dari Bronx di megapolitan Rio de Janeiro sampai kantor-kantor elit di Silicon Valley. Dari syukuran kelahiran sampai berkabung atas kematian. Dari lorong-lorong sempit shanty town di Uganda sampai di laptop-laptop mahasiswa muslim di Eropa. Aku praktis ada dimana-mana, setiap detik jutaan orang membacaku. Aku adalah salah satu dari jutaan saudaraku yang menyebar di seluruh dunia.

Minggu yang lalu aku disumbangkan oleh seorang anggota DPR di perpustakaan daerah. Jadi selama seminggu ini aku mendapatkan rumah baru, aku beruntung sekali, di tempat baru ini temanku jadi banyak. Di tempat yang lama, aku cuma dipajang saja, tidak pernah dibaca. Dulu aku dijadikan mahar perkawinan anggota DPR itu dengan istri pertamanya, setelah dia bercerai karena istrinya pertamanya tidak mau dimadu, aku diserahkan ke perpustakaan daerah. Aku merasa gembira sekali, serasa lepas dari kubangan gelap, tiap hari dulu aku hanya melihat wajah-wajah masam, hubungan rumah tangga yangg tidak harmonis, penindasan atas hak-hak istri, anak-anak yang tidak terdidik dengan baik.

Begitu datang aku langsung disambut oleh penghuni-penghuni lama disini, yang paling tua di sini dan paling gemuk itu namanya Veda, yang juga cukup tua walau tidak setua Veda ada Tipitaka, ada juga Injil, ada Taurat, ada Upanishad, ada Politica, Ada Republic, ada Divina Comedia, ada Das Kapital, ada banyak sekali temanku di sini. Walaupun begitu, aku tidak bisa langsung dekat dengan mereka semua, yang paling dekat selama ini masih Injil, yang sedikit lebih tua dariku.
Don't cry, Sumber: Breathing art
Aku sering curhat dengannya, dia juga yang selama ini sering melindungiku dari olok-olokan teman-teman dari rak sebelah kiri, terutama Das Kapital yang suka menggangguku. Tapi aku senang di tempat baru ini, aku semakin dewasa, banyak yang kupelajari dari teman-teman baruku. Aku juga mengangkat adik, namanya Aqdas, yang terus terang kuakui kadang lebih dewasa daripada aku. Di tempat baru ini aku ditempatkan bersama teman-teman dari jenisku, yang akhirnya aku malah sering diskusi dengan mereka semua.

Dari diskusi-diskusi itu aku menjadi terbuka akan warna-warninya dunia filsafat, itu baru dari filsafat agama. Lebih beragam lagi kalau aku kadang-kadang mendengarkan percakapan dari teman-teman yang berada di rak sebelah kiri. Dari diskusi itu, aku menjadi sering merenung sendiri. Beberapa hari lalu aku diambil dan dibaca oleh seorang anak kecil, umurnya kira-kira 13-14 tahunan, berpakaian kumal, celananya robek disana-sini, kulitnya hitam diliputi debu.

Setelah menengok kanan kiri, dia mengambilku dan segera pergi ke meja dan membacaku. Aku merasa sangat bahagia, setelah sekian lama aku hanya dipajang, akhirnya ada juga yang membacaku. Memang dia kurang lancar membacaku, tapi aku bisa merasakan aura kerinduan yang sangat dari tatap matanya dan desah suaranya saat membacaku. Tapi sayang, tidak berapa lama kemudian petugas perpustakaan mengusirnya, disertai gertakan yang memilukan hatiku. Tentunya bagi anak itu lebih memilukan lagi, aku melihat air mata menetes di pipinya. Aku sangat sedih sekali. Terus terang saja, aku kadang iri sama Injil, Veda, Tipittaka, dan yang lainnya. 

Bukannya apa-apa, tapi banyak orang yang mengatakan bahwa mereka adalah ciptaan manusia, jadi kalau salah ya lumrah, namanya juga ciptaan manusia. Tapi aku di rumah besar ini adalah satu-satunya yang dianggap produk Tuhan, dianggap sebagai kata-kata Tuhan, jadi kalau aku salah seperti salahnya aku tidak mengharamkan perbudakan, atau salahnya aku melakukan perhitungan matematika dalam pembagian warisan, berarti yang salah Tuhan dong, karena aku adalah kata-katanya Dia. Aku bukan kata-kata Muhammad. Karena Muhammad hanyalah mediumku.

Bahasaku memang indah, diksi-diksiku memang mumpuni, tapi aku kontekstual, aku ada karena keadaan, aku ada karena Muhammad butuh alat untuk menyadarkan kejahiliyahan umatnya. Muhammad butuh dogma sebagai alat, karena orang bodoh yang celakanya 99% manusia tergolong dalam golongan orang bodoh ini butuh dogma, butuh simbol, butuh balasan atas yang dilakukannya, butuh ancaman dan butuh hadiah.

Muhammad sendiri tidak butuh dogma dan simbol, karena dia manusia sangat pragmatis dan sekaligus futuristik idealis. Muhammad selalu mengingatkan akan bahaya kebodohan atau kejahiliyahan, karena dia tahu benar akan seperti apa umatnya sepeninggalnya. Saat sebelum Ia Meninggal, aku ingat benar bahwa dia berkata “ Umatku..umatku…umatku…”, kekhawatiran yang tidak berlebihan jika melihat apa yang terjadi setelah dia meninggal. Yang mengantarkan jenazahnya hanya 5 orang, sedangkan yang lain ribut membicarakan vacuum of power.

Umar dengan lantang akan menebas leher siapa saja yang bilang Muhammad meninggal, bibit-bibit kultus yang justru ada di kalangan sahabat terdekatnya. Belum kejadian-kejadian memalukan beberapa lama setelah dia meninggal, istrinya Aisyah perang dengan menantunya Ali bin Abi Thalib, cucunya Hasan dan Husein dipenggal kepalanya oleh orang-orang haus kekuasaan, semua sahabat terdekatnya mati terbunuh karena kecemburuan, karena kekuasaan.

Hidup lebih dari 14 abad membuatku menjadi saksi bisu kenaifan manusia, terutama justru kenaifan jutaan pembaca setiaku, yang sangat membuatku pedih adalah ucapan Muhammad Abduh sewaktu kembali dari perjalanannya ke Eropa, dia lebih melihat Islam di sana daripada di negeri-negeri yang selama ini mengaku sebagai negeri Islam. Nilai-nilai persamaan hak lebih dihormati di negeri yang sedikit sekali orang yang bisa membacaku, kesejahteraan rakyat kecil lebih terjamin di negeri itu, di saat korupsi dan komersialisasi diriku dijadikan propaganda politik oleh orang-orang yang mengaku Islam yang sering hanya demi kepentingan sesaat semata. Jika hidupku memang ditakdirkan untuk menanggung beban ini, aku akan menjalaninya dengan berat hati.

Sebenarnya lebih baik aku tiada atau mati saja, daripada hidup menanggung beban melecehkan tuhan. Daripada tiap detik dikumandangkan di seluruh dunia, tapi substansi nilaiku dibuang di pojok-pojok sejarah, sedangkan nilai-nilai normatifnya saja yang jadi keributan dimana saja.

Doakan aku ya, biar Allah menguatkan hatiku menerima perlakuan makhluk-makhluk, menguatkan aku menghadapi penghinaan-penghinaan filosofis ini. Sudahlah, kurasa sudah cukup aku curhat, yang lain sudah pada tertidur. Weda sudah ngorok kudengar, Injil dan yang lain juga sudah tidak terdengar suaranya. Aku ingin tidur, kalau bisa selamanya, agar penderitaanku ini berakhir, penderitaan peradaban yang harus kusandang, oh malang sekali diriku. Terima kawan, sudah sudi mendengarkan keluh kesahku.



________________________________
M. Amin



Rhapsody Sang Bidadari

Sore itu ketika sampai dan beristirahat di tepi sungai setelah lelah sehaian berjalan dan bekerja di sawah. Rasanya lega sekali, padi-padi yang selama ini kurawat sudah mulai gemuk berisi, kelopaknya panjang berulir. Bahkan beberapa hari ini sudah banyak yang mulai merunduk. Melihat dan mengagumi darimana dia berasal dan mendapatkan penghidupan. Mungkin itu yang dimaksud oleh nenek moyang untuk meniru ilmu padi, semakin berisi maka semakin merunduk. Bukan merunduk tidak percaya diri, tetapi merunduk mengagumi Ilahi, sumber segala ilmu pengetahuan.

Hari sudah mulai gelap, temaram cahaya lampu dari seberang sungai sudah mulai terlihat. Dalam temaramnya cahaya tiba-tiba aku melihat bayangan seseorang berambut panjang berjalan menuju sungai, seorang wanita yang memakai kemben[1]dan menjinjing keranjang kecil. Langkahnya pelan menjemput air sungai, dan berhenti ketika air telah mencapai ujung atas kembennya.
Rambut panjangnya segera diurai dan dia mulai merendamkan dirinya ke dalam air sungai yang mulai dingin. Mataku tak berkedip sama sekali melihat kejadian itu, jarak yang memisahkan aku dengannya memang tidak terlalu jauh hingga sayup-sayup kudengar dia menyanyi, detak jantungku berdegup keras, suaranya begitu magis yang didukung oleh suasana sore yang dihiasi cakrawala jingga. Putri-putri keraton yang tertulis didalam lembaran daun-daun lontar Majapahit yang katanya cantik nan gemulai itu aku belum pernah melihatnya, tapi sepertinya yang didepan mataku ini tidak akan kalah indah dengan putri-putri itu, hanya saja kecantikan dan gemulainya tidak tertulis didaun lontar, tapi tertulis di alam raya, dengan tinta sang cakrawala.

Dia berputar-putar, bermain air, dan terkadang menyelam mengambil pasir halus dari dasar, dan diusapkannya di seluruh badannya.
Heart beat, Sumber: rebloggy
Rupanya perempuan itu telah menyadari sejak tadi ada mata yang mengagumi geraknya yang indah, dan ia mulai menatap balik ke arahku. Aku menjadi kikuk, dan kulambaikan tangan ke arahnya. Dia membalas lambaian tanganku, sambil tak henti-hentinyanya ia bersenandung kemudian ia melambaikan tangan lagi, mengajakku untuk turun mandi.

Aku tidak berpikir panjang, meski hawa dingin membekukan tulang sekalipun, kupaksakan diri juga untuk mengakrabkan diriku dengan air sungai ini. Aku berenang ke seberang, menelusuri riak air yang memancarkan aroma eksotis dimalam hari. Bayang wajahnya semakin jelas,dan suara nyanyiannya semakin keras terdengar. Wajahnya bulat, dengan pandangan tajam berwarna biru.
Ternyata dia menyanyi Asmarandana,[2] tembang ritmis tentang cinta seorang anak manusia. Dia sudah mulai nakal melemparkan air ke mukaku sambil tertawa-tawa renyah, akupun membalasnya. Kami tertawa riang bersama, akrab seakan telah bersatu di kehidupan sebelumnya. Reinkarnasi kedua yang tinggal melanjutkan saja. Hanyasaja aku merasa heran, kenapa aku baru bertemu dia sekarang, bukankah dia adalah salah satu penduduk desa seberang?

Dia tertawa lagi, tertawa lagi, kadang kuberanikan diri memandang tepat lurus ke wajahnya, saat itulah dia berhenti tertawa, tawanya terganti dengan senyuman yang menyiratkan makna surgawi, senyum yang bukan berasal dari bumi ini, aku tahu pasti. Dia menyelam, beberapa lama sehingga aku kebingungan di kegelapan, aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sosoknya, tapi ia tak kunjung muncul juga.

Sedang sibuk mencari, tiba-tiba ada benda serupa pasir menabrak punggungku, secepat cahaya menoleh kebelakang, hampir saja wajah kami bertabrakan. Ternyata rambutnyalah  yang menabrak punggungku, kini ia tepat berada beberapa senti di depanku. Begitu dekat hingga aku mendengar dan mencium aroma nafasnya. Seperti angin harapan dari oase yang menerjang padang pasir nan tandus. Dia sendiri sepertinya kaget, tidak menyangka akan menabrak punggungku dari belakang.
Aku baru benar-benar sadar sekarang, betapa cantik makhluk yang berada di depanku ini, lebih cantik dari apa yang aku bayangkan. Rambut panjangnya yang hitam legam mengkilat oleh sinar rembulan yang sudah mulai mengggantikan tugas sang mentari.

"Cantik."

Tiba-tiba terdengar suara serak seorang lelaki membahana dari atas sungai, suaranya menimbulkan gema yang sambung menyambung. Gadis itu langsung beranjak, menuju ke tepian lagi. Tapi dia celingukan, seperti sedang mencari sesuatu. Ah ya, sepertinya dia lupa dimana menaruh keranjang kecilnya, ternyata bidadari bisa juga lupa, aku langsung menghambur ke darat, aku mencoba mengingat-ingat dimana dia tadi meletakkan keranjang kecil itu.

Sinar rembulan yang tidak begitu terang semakin mempersulit pandangan. Tapi segera kulihat keranjang tadi di balik batu di ujung sana, rupanya karena keasyikan bermain, kita sudah agak jauh dari tempat semula. Aku segera berlari mengambil keranjang kecil terbuat dari anyaman bambu itu, dan segera menyerahkan kepadanya.

"Terima kasih ya sudah menemaniku.." dan diapun pergi.

Dua belas purnama sudah aku mengenalnya, semenjak perkenalan itu kehidupanku selalu diwarnai oleh canda dan kisahnya. Jika malam diwarnai rembulan, kami akan selalu pergi ke sungai itu, bermain dan bernyanyi, tersenyum dan tertawa bersama. Dia memang cantik, seperti namanya.
Semakin lama aku mengenalnya, kecantikannya semakin membuatku tergila-gila. Karena cantik yang terpancar lebih kuat justru dari sikapnya melebihi kecantikan raganya yang memang sudah luar biasa. Namun ia selalu saja menolak ketika kubilang bahwa dirinya cantik, apalagi ketika kubilang bahwa dia adalah seorang yang sangat cerdas, dia pasti mengalihkan pembicaraan. Apakah dia kira aku sedang ngegombal, padahal belum pernah sekalipun terpikir dalam hidupku untuk memiliki hobi ngegombal terhadap perempuan.

Hobi yang sangat elitis itu memang tidak pas denganku, aku hanya ingin berkata dengan jujur. Aku hanya bicara apa adanya, tidak mengurangi tidak pula ingin menambahi. Tapi memang sebenarnya kata-kata tidaklah cukup melukiskan keindahannya.

Aku tidak akan menyerah, aku akan terus mencoba, walau aku tak tahu apa itu sampai pada tujuannya atau tidak sama sekali. Tapi begitulah, aku hanya makhluk biasa, yang bisa terpesona oleh keindahan dan kecantikan, yang bisa menggelepar oleh suara halus dan rayuan.

Aku sering mengajaknya untuk bicara tentang masa depan. Bicara mengenai langkah-langkah manusia di bumi, tentang segala tingkah dan perbuatan. Diapun menimpalinya dengan suara dan kata-kata yang lembut diucapkan dengan yakin. Segala protesnya terhadap manusia yang sewenang-wenang terhadap alam, terhadap keadaan yang membelenggu anak bangsa untuk maju, atau terhadap nada sinis sebagian manusia jika seorang wanita ingin berkarya. Dan kalau keadaan sudah menjadi terlalu serius, kitapun bercanda lagi.

Bicara tentang kucing yang hari ini tidak mau makan karena sedang jatuh cinta dengan kucing tetangga, atau tentang anjing yang nakal mengikuti kemanapun tuannya melangkahkan kaki. Tertawa lagi, menertawakan segala yang bisa ditertawakan. Melepaskan segala beban, karena beban kadang memang tak perlu terlalu dipikirkan. Asal sebagai manusia kita sudah melaksanakan yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Pada suatu malam aku menanyakan sesuatu padanya, maukah dia memberikan senyum surgawinya untukku, tidak hanya untuk saat ini, tapi untuk sepanjang perjalananku menempuh kehidupan. Dia hanya terdiam, menerawang, dan akhirnya dia bilang dia juga takut kehilanganku. Lalu kutanya, maukah dia bersama denganku mencari arti dibalik semua ayat-ayat Tuhan yang tertulis maupun yang tercipta, mengarungi bahtera bersama menuju teluk bahagia di ujung sana.

Rona wajahnya berubah, dia terlihat bingung, lama sekali dia terdiam, mengarahkan pandangan ke bumi, seakan menembus dan bertanya kepada bumi akan galaunya, kemudian ke langit, bertanya kepada bintang-gemintang akan risaunya.

Di remang rembulan, dia berbisik kepadaku, bahwa dia tak mau mengecewakanku.
"Biarkan aku sendiri beberapa purnama ini...", dan kemudian dia pergi, melewati rumpunan padi yang kekuningan, dan menyeberangi sungai jernih itu. Pergi ke desanya yang diseberang. Aku hanya bisa terpaku di sini, kejadian itu terasa begitu cepat, sampai aku tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun. Aku berteriak-teriak memanggilnya, tapi suaraku ditelan oleh anggun langkahnya.
Dia mungkin belum mengetahui, bahwa dia tidak pernah mengecewakanku sama sekali, dan tidak akan pernah. Karena seperti yang telah aku bilang dahulu ketika aku pertama kali menyatakan bahwa aku cinta padanya.

Cintaku apa adanya, kelebihan dan kekurangan itu adalah keniscayaan, bahkan bagi seorang bidadari seperti dia. Tidak ada yang mampu memalingkan aku dari cintanya, karena cintaku bukan karena cantiknya, tapi karena kecantikan hatinya. Cintaku bukan pada keluarbiasaannya, tetapi karena usahanya untuk tetap menjadi biasa. Dan aku tahu setiap yang hidup akan beranjak tua, dan aku yakin kecantikan hatinya abadi.

Biarlah semua manusia itu silau akan aroma harum dan tebaran pesonanya, aku hanya akan mengagumi dia seperti begitu adanya. Beberapa purnama, sungguh waktu yang sangat lama kurasakan bagiku. Aku hanya ingin dia kembali lagi berbagi tawa bersamaku, setiap malam yang berhiaskan rembulan bermain bersamaku, biarlah masa depan tetap menjadi masa depan.



___________________________
Penggubahan Rhapsody seorang bidadari

[1]Kemben (Jawa) atau Kemban (Indonesia), merupakan pakaian tradisional pembungkus tubuh wanita yang secara historis, umum ditemui di daerah Jawa dan Bali. Kemben dapat berupa sepotong kain pembungkus tubuh, baik kain polos, batik, beludru, ataupun jenis kain lain yang menutupi dada melilit tubuh wanita. Lihat Kemben, https://id.wikipedia.org/wiki/Kemben, diakses pada tanggal 8 Mei 2018.
[2]Asmaradana atau asmarandana merupakan jenis tembang macapat, Tembang asmarandana umumnya untuk mereka yang gandrung terhadap suara (lagu). Asmarandana diambil dari kata asmara yang berarti cinta, dan dahana yang berarti api. Dari sinilah asmarandana mengandung ritme dan segala hal yang berhubungan dengan tresna (cinta). Lihat Asmaradana, http://www.wikiwand.com/jv/Asmaradana, diakses pada tanggal 8 Mei 2018.


Ketika Jibril Berkunjung ke Bumi

Sayap-sayap Jibril mulai berteriak kelelahan, setelah tugasnya yang terakhir di sebuah planet di galaksi yang jauh, dia ingin sejenak menengok jejak terakhirnya di bumi 14 abad yang lalu. Sebetulnya tugas selanjutnya memang telah menunggu, tapi dia meminta reses sejenak pada Tuhan untuk sekedar beristirahat, waktu resesnya kemudian ia gunakan untuk melihat planet kecil berwarna biru yang mengelilingi bintang berwarna kuning.

tiziano polittico averoldi particolare
Sumber: Big pictures
Sedikit ilmu yang telah disampaikannya kepada Muhammad ingin dilihatnya lagi, sekedar bernostalgia. Jibril tersenyum-senyum sendiri, betapa aneh perjalanan anak spiritualnya yang bernama Muhammad itu.

Dia tidak bisa membaca. Pertama kali Jibril mendatangi Muhammad, Muhammad malah ketakutan. Tapi Jibril memaksa juga mengajari pemuda jujur itu beberapa kata untuk sedikit mengenalkannya pada Sang Pencipta. Kedua kali Jibril datang, Muhammad tambah ketakutan sampai dia sakit, istrinya yang jauh lebih tua dari Muhammad sendiri, Khadijah, sampai kebingungan, dan menenangkan Muhammad. Jibril sampai geleng-geleng kepala, tidak tahukah pemuda ini bahwa dia akan diberi sedikit pengetahuan tentang sang Khaliq. Tapi Muhammad cepat sekali belajar, dalam waktu yang singkat dia telah menjadi manusia yang cukup dewasa, cukup untuk menyampaikan kepada manusia lain, bahwa yang patut disembah hanyalah Tuhan.

Tuhan yang tak terbayangkan oleh mata biasa, tak teruraikan oleh kata, yang untuk mengenal-Nya manusia hanya bisa meraba-raba saja. Betapa berat perjuangan Muhammad, Jibril sudah tak ragu lagi. Diludahi, dilempari kotoran onta, dikejar-kejar orang seperti maling yang mau dibunuh atau dibakar masa, tapi biasalah itu untuk utusan Tuhan. Jibril sudah tak kaget lagi, anak spiritual Jibril sebelumnya, Yesus, malah mengalami nasib lebih parah, sampai digantung di Golgota.[1]

Kebanyakan utusan-utusan itu mengalami nasib yang hampir serupa, mereka ditolak oleh kaumnya, dianggap gila, diusir, dan beberapa dibunuh. Hanya sedikit sekali yang cukup berhasil, dalam arti masa hidupnya punya cukup banyak pengikut. Sidharta Gautama salah satunya, anak spiritual yang satu ini memang cukup bandel dan mbalelo, lebih suka mencari "enlightment" dengan caranya sendiri. Lebih suka mencari bahagia tanpa Tuhan, buat apa jauh-jauh kalau bisa mencari bahagia, kalau dalam dirinya sendiri saja sudah ada.

Kadang Jibril jengkel sama Sidharta, seperti kacang yang lupa akan kulitnya, tapi tidak apalah pikir Jibril waktu itu, yang terpenting ajaran menuju kebaikannya banyak diikuti orang. Dari kejauhan Jibril mulai melihat samar planet bumi, seperti kelereng biru bercak-bercak putih yang berputar.

Kangen rasanya, 14 abad bukan waktu yang sebentar. Sudah terbayang di otaknya, anak-anak kecil berlarian dan bermain, nenek-nenek yang tersenyum sambil nyusur, sungai-sungai jernih nan indah tempat manusia mandi, si kulit hitam dan si kulit putih berjalan beriringan, wanita-wanita bermata sipit bernyanyi, sungguh bumi yang berwarna-warni indah. Jibril senyum-senyum sendiri seperti gila saja. Tak sabar ingin segera sampai.
The Angel Gabriel appearing to the Shepherds - alfred morgan
Sumber: art net
Sesampai di bumi, Jibril beristirahat sejenak di tengah padang pasir yang hanya ditumbuhi beberapa pohon. Mengibas-ngibaskan sayapnya dan sebentar merebahkan diri. Bahagia sekali Jibril mendapat "short vacation", bermiliar-milyar tahun sudah dia mengabdi sebagai Menteri Penerangan Semesta Alam.

Akhirnya dia bisa sedikit bernafas lega. "Allahu Akbar, Allahu Akbar, ...." sayup terdengar suara pujian kepada Tuhan dari kejauhan. Jibril sedikit kaget, dan dia senang sekali, misinya berhasil. Manusia masih membesarkan nama Tuhan, riuh rendah memuji Tuhan. Dia berdiri, dari kejauhan kelihatan beberapa puluh manusia bersorban putih bersemangat sambil mengacung-acungkan tongkat.

Hebat, manusia-manusia ini sangat mencintai Tuhan, meski panas begini mau-maunya berarak-arakan. Jibril tersenyum, ada rasa bangga menyeruak dalam dadanya, setelah liburannnya selesai, dia akan bisa dengan bangga memberikan laporan kepada Tuhan bahwa tugas yang telah diberikan padanya sukses berat.

Tuhan mah pasti sudah tahu, tapi kalau Jibril yang lapor sendiri, tentu akan menaikkan konditenya Jibril sebagai Menteri Penerangan Semesta Alam yang bertanggung jawab dan telah sukses. Semakin lama semakin keras suara-suara manusia itu. Diam-diam Jibril mengikuti mereka, sebenarnya bukan diam-diam juga, karena memang manusia-manusia itu tidak bisa melihat Jibril, kalau Jibril menampakkan diripun belum tentu mereka kuat melihatnya, Muhammad saja sering pingsan kalau melihatnya dalam wujud asli. Teknologi yang dipunyai manusia pun belum bisa menjelajahi dimensi yang didiami Jibril.

elijah wilderness
Sumber: daily prayer
Sampailah rombongan manusia itu di suatu kampung, rumah-rumah di kampung ini berbentuk bulat terbuat dari kayu, ternyata rombongan itu mengetuk pintu rumah yang pertama terlihat oleh mereka, seorang perempuan berkulit hitam menggendong anaknya keluar, dan tiba-tiba terdengar suara dor, dor, dor, dor, Perempuan itu pun langsung roboh, darah mengalir dari tubuhnya, bahkan seorang anak kecil yang digendongnya pun berlumuran darah, ada lubang kecil di kepalanya yang mengucurkan darah begitu deras.

Mata Jibril membelalak, Jibril kaget setengah mati, apa salah dan dosa ibu dan anak ini? sampai dibunuh sedemikian rupa, yang juga membuat Jibril kaget, ternyata tongkat yang diacung-acungkan oleh mereka adalah alat yang digunakan untuk membunuh, dan tidak perlu ditusukkan, Jibril tidak tahu alat apa lagi itu yang digunakan manusia untuk membunuh. Ah, dia ingat, bukankah dulu sudah ada tongkat seperti itu, digunakan oleh orang-orang Cina untuk pertunjukan kembang api dan akhirnya untuk senjata.

Rumah demi rumah diobrak-abrik, dan semua penghuninya dibunuh. Jibril shock berat, mengapa orang-rang berkulit putih yang berbahasa Arab itu membunuhi orang-orang berkulit hitam. Galau menggelayut dalam diri Jibril, setitik air mata menunjukkan simpatinya, Jibril bergetar, dan akhirnya terbang berkeliling.

Tak jauh dari situ dia melihat kendaraan-kendaraan yang aneh berwarna putih yang belum pernah ia lihat sebelumnya, mempunyai roda empat berwarna hitam bertuliskan UN di sampingnya. Jibril penasaran terdampar di daerah manakah dia, kok manusia begitu tega membunuh sesamanya. Darfur,[2] ya daerah ini bernama Darfur, tertera di salah satu tenda yang didiami oleh beberapa wanita dan anak-anak berkulit hitam. Jibril semakin sedih, di sebelah sana terlihat beberapa wanita berebutan air, dan di sebelah tenda seorang anak kurus menangis, mulutnya dikerubuti banyak lalat.

Jibril kecewa, dia tidak mau liburannya rusak gara-gara pemandangan semacam ini. Dia segera terbang setinggi-tingginya dan mencoba mencari daerah lain yang mungkin lebih indah dan damai.
Untuk mengurangi sedihnya, Jibril bernyanyi lagu-lagu klasik Yunani, sayapnya ia gesek-gesekan sehingga bersuara menyerupai kithara,[3]menyanyikan lagu-lagu moral yang dianjurkan oleh Plato dan Aristoteles.

Jibril melayang-layang tak tentu arah di angkasa luas, ia berusaha lepas dari pemandangan mengerikan yang baru saja dilihatnya. Setelah dirasa agak tenang, Jibril segera berpikir untuk melanjutkan perjalanan nostalgianya. Kali ini dia tidak mau terdampar lagi di tempat yang salah. Setelah beberapa waktu berpikir, akhirnya dia memilih Jerusalem sebagai persinggahan selanjutnya.
Kota yang indah itu, kota yang disucikan oleh tiga agama besar, tempat kelahiran Yesus, tempat istana besar Solomon (Sulaiman) pernah dibangun, dan tempat dimana Muhammad pernah mengarahkan mukanya waktu sembahyang. Jerusalem pastilah tenang dan damai, karena rahmat tiga agama yang telah dibawanya. Tempat yang bagus untuk mengisi liburan singkat Jibril di bumi.

Dari angkasa, Jibril segera melesat ke bawah sedikit ke arah utara dari tempatnya semula, utara? Jibril tersenyum, arah? arah ya arah, khayalan manusia saja apa yang disebut “arah” itu. Sama saja dengan batas, semesta ini tak berbatas, semakin luas malah, mengembang ke segala arah. Atau juga langit, mana ada langit, manusia memang ada-ada saja. Tapi Jibril memang maklum, sama Tuhan manusia memang dibikin tidak terlalu pinter, wong sebodoh itu saja sudah keminter,[4]apalagi kalau dibikin pinter. 

Jibril juga terkadang sedikit protes, kenapa Tuhan menyembunyikan identitas-Nya, memberi tahu manusia cuma setengah hati, celakanya manusia jadi sok tahu lagi. Jibril langsung menuju bukit Zion, dimana sudah berdiri Masjid indah berkubah warna emas, Al-Aqsa. Ribuan tahun yg lalu, Haikal Sulaiman pun tak kalah indahnya. Termangu di emperan masjid, Jibril melihat sekeliling.

Tenteram dan tenang, adzan berkumandang, menyambut mega kemerahan di ufuk. Jibril menyempatkan diri untuk ikut sholat berjamaah dengan para manusia itu. Menyelam sejenak dalam keagungan-Nya. Seusai salam, Jibril segera terbang berkeliling, melihat dari sisi ke sisi, perubahan demi perubahan sewarna peradaban, di sebuah kota yang menjadi sumbu kepercayaan. Di pinggir kota, Jibril melihat beberapa pemuda berlarian, sambil sesekali melemparkan batu, terdengar suara riuh, dari seberangnya sebuah kendaraan besar dari besi dan beroda bergerigi panjang berjalan pelan sambil sesekali memuntahkan suara-suara yang mengerikan.

Beberapa pemuda tergeletak berlumuran darah, teriakan Allahu Akbar bergema dimana saja, kendaraan dari besi itu kian dekat dengan rumah-rumah, beberapa manusia berpakaian hijau belang keluar dari kendaraan besi itu dengan membawa tongkat yang sama dipergunakan oleh manusia di Darfur. Tongkat itu diarahkan ke rumah-rumah di sepanjang jalan, Jibril melihat beberapa jiwa memisahkan diri dari raga dan segera melayang-layang di sekitaran rumah.

Mulut Jibril melongo, tontonan apa lagi ini, pikir Jibril. Belum lama dia melihat manusia berteriak-teriak Allahu Akbar membunuhi manusia lain, sekarang dia melihat manusia-manusia yang berteriak Allahu Akbar yang dibunuh. Jibril semakin bingung melihat kelakuan manusia, terbang melesat keluar kota, mencari tahu apa yang terjadi di kota yang dianggap suci itu.

Pemandangan di kota lain tidak lebih menyenangkan, kendaraan-kendaraan besi yang besar merusakkan rumah-rumah dan para wanita menangis keras, di sebelah sana Jibril melihat tembok panjang yang berkelok-kelok dan di sisi-sisinya dihiasi oleh kawat berduri.

Jibril semakin tidak mengerti, ada apa dengan manusia-manusia ini, bukankah setelah wahyu terakhir dibisikkannya ke Muhammad, seharusnya manusia membangun jembatan, bukan tembok. Membangun persatuan, bukan perpecahan.

Jibril menangis lagi, kali ini tidak hanya setetes, namun deras seperti hujan musim gugur, sesenggukan dia meratapi misinya, sayap-sayapnya dikepakkan tanpa ritme, menimbulkan badai gurun yang luarbiasa besar. Langit tiba-tiba menjadi gelap, mendung bergulung-gulung membentuk rantai menakutkan, Jibril dipanggil Yang Kuasa.

Dalam kepulangannya, Jibril bersumpah dalam hatinya,

"Aku tidak akan kembali lagi ke bumi”.

Angel of Deliverance - arch rafael howard daivd johnson
Sumber: daily prayer


____________________________
Penggubahan Liburan Jibril Ke Bumi.


[1] Golgota adalah tempat penyaliban Yesus menurut Alkitab Kristen yang terletak di dekat Yerusalem, Israel. https://id.wikipedia.org/wiki/Bukit_Golgota, diakses pada tanggal 30 April 2018.
[2]Adalah sebuah daerah di Sudan bagian barat jauh yang berbatasan dengan Republik Afrika Tengah dan Chad. https://id.wikipedia.org/wiki/Darfur, diakses pada tanggal 30 April 2018.
[3]Chitara (Latin), Khitara (Yunani), adalah alat musik Yunani Kuno dalam keluarga Lyre atau Lyra. Dalam bahasa Yunani modern, kata Khitara berarti “Gitar”, sebuah kata yang secara etimologis berasal dari kata Khitara. https://en.wikipedia.org/wiki/Cithara, diakses pada tanggal 30 April 2018.
[4]Adalah istilah dalam bahasa Jawa yang diambil dari kata “pinter”, Keminter bertolak belakang dengan kata “pinter”, sifat “Keminter” menyiratkan keangkuhan, kepongahan, dan ketinggi hatian atas kepandaian yang dimiliki. https://www.kompasiana.com/gustaafkusno/gaya-menerjemahkan-yang-sok-muluk-dan-keminter_552b0ba6f17e617066d623ce, diakses pada tanggal 30 April 2018.


Perempuan yang Menikmati Diperkosa

Segar sekali rasanya, barusan aku telah menggagahi seorang gadis cantik bernama Indonesia, cantik namun bodoh, Ia berdandan dengan gincu tebal yang mengundang birahi. Sebelum dia kugilir kepada pelanggan-pelanggan lainnya, dia harus kucicipi dulu.

Blue and Gold Beauty II - Josephine Linggar, Sumber: Blue Lotus Fine Art
Aku Badu. Pekerjaanku Mucikari, menjuali perempuan-perempuan yang kutemui dijalan, tentu saja yang cantik-cantik tapi otaknya setitik, atau lebih tepatnya punya otak tapi tidak digunakan. Setiap hari aku berjalan-jalan dari ujung ke ujung, untuk sekedar melihat-lihat barangkali ada gadis baru yang memenuhi syarat. Aku sudah melakukan pekerjaan ini bertahun-tahun lamanya, tahun ini, tahun 2017, genap 72 tahun sudah aku menjalankan profesi ini.

Pekerjaan yang sangat menyenangkan, aku tak perlu memeras keringat dan banting tulang, tapi aku bisa hidup mewah, terhormat dan dihormati. Aku mengenal dia beberapa minggu yang lalu waktu ketika aku sedang berjalan-jalan di mall, kulihat ada seorang gadis tomboy berambut pendek dengan wajahnya cantik dan berhidung mancung. Sedang jalan-jalan melintasi etalage toko-toko bermerk. Naluriku langsung berjalan, kudekati dia dan berpura-pura menanyakan dimana Starbucks Cafe terdekat dari situ. Aku pura-pura tidak tahu daerah itu, dia pun menunjukkan arah. Tetapi aku bilang bahwa aku tidak tahu daerah situ, aku memintanya untuk mengantarkanku ke cafe itu dengan imbalan jam tangan bermerk yang terpampang di depan etalage. Dia mau saja, dan setelah sampai di cafe kutawari saja sekalian untuk minum kopi bersamaku. Kami mulai ngobrol ngalor ngidul tak tentu arah.

Dari percakapan itu aku tahu bahwa dia sebenarnya adalah anak seorang tuan tanah, tanahnya luas dari Sabang Sampai Merauke, tetapi karena keengganannya menggarap tanah itu ditambah ketidaktahuannya akan ilmu bercocok tanam dan manajemen, dia biarkan orang lain yang mengolah tanah itu. Dia hanya menarik sedikit biaya dari orang yang menggarapnya. Dia pun lebih suka hijrah ke kota besar yang hingar bingar,  dengan begitu dia bisa berdandan modis, mempunyai peralatan mutakhir, dan ber - urbanlifestyle -  ria.

Biasanya, setelah kugagahi, giliran selanjutnya untuk mencicipi adalah Imof. Jika kesempatan memungkinkan, menage a trois pun tak apa, kami garap bersama-sama gadis baru itu. Bersama Imof, yang adalah saudara kembarku, kami adalah entitas mucikari terbesar dan terhebat yang mungkin pernah ada di muka bumi ini. Kami sama-sama dilahirkan di Bretton Woods, sebuah desa kecil nan indah di bumi utara sana. Sebagai mucikari, aku sudah makan asam garam kehidupan. Merayu mereka yang kutemui dengan mengiming-imingi mereka dengan kekayaan, kemewahan, dan tentu saja kemajuan lahir dan batin. Memang tidak semua berhasil aku tipu, tapi sebagian besar berhasil.

Falso Di Autore Ballerina
Di Flamenco In Rosso,
Gadis-gadis cantik yang hanya mau bermewah-mewah tapi tidak mau bekerja keras dan berpikir, ah tentu saja adalah makanan empuk bagiku. Wajah cantik, pantat bahenol, pinggang mirip gitar Spanyol, tentu saja akan sangat mendatangkan keuntungan yang besar. Untuk meningkatkan ketergantungan mereka, akan kumanjakan dulu dengan apapun yang mereka inginkan, jika sudah ketagihan maka mereka kuhutangi dulu dengan jumlah yang tidak sedikit. Kuberi mereka barang yang bagus, mobil mengkilap, janji-janji manis, dan hampir apapun yang menjadi tanda kemajuan dan modern lifestyle. Baru setelah itu, perlahan namun pasti, kudikte apa yang harus mereka lakukan, dengan tujuan akhir menjadi pelacur profesional untuk imperium bisnisku.

Terkadang, aku sengaja menyewa agen khusus untuk memperluas imperium bisnis mesumku, para lover boy adalah negosiator ulung dalam merayu dan tentu saja menjerat mangsa itu ke dalam lingkaran setan yang telah disiapkan. Setelah masuk dalam inner circle, mereka akan dengan sendirinya belajar bagaimana melempar senyuman nakal, menggoda untuk segera diajak asyik di atas ranjang. Tetapi sungguh, banyak dari mereka justru belajar sendiri seperti itu. Menjilat dengan kata-kata manis dan pelayanan yang memuaskan.

Bahkan kadang ketika aku menjenguk mereka, sengaja disiapkan penyambutan yang luar biasa, agar tentu saja aku berbaik hati untuk menghutangi mereka lebih banyak dan lebih banyak lagi. Kadang-kadang aku merasa kasihan melihat perempuan-perempuan itu, selalu saja sebenarnya ada kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman imperiumku, tapi mereka sendiri sepertinya enggan dan malas.

Dengan pekerjaan yang cuma mengangkang dan bermake up ria itu, rupanya semakin lama justru semakin menumpulkan otak mereka. Mereka sudah bisa seharusnya untuk berdikari, mungkin dengan uang yang mereka punya dan tenaga yang tersisa, membuat usaha sendiri agar martabat mereka terangkat. Tapi sekali lagi, mereka rupanya malas dan tak berpendirian teguh. Sekali waktu mereka mungkin mencoba memikirkannya, dan berkata kepadaku untuk mengangsur utang mereka, dan tak mau berhutang lagi. Tapi berulang kali pula mereka berubah pikiran, berhutang dan berhutang kembali untuk membiayai gaya hidup mereka yang sudah terlanjur hedonis. Bahkan akhir-akhir ini ada di antara mereka yang meminta penghapusan utang, yang pada awalnya tentu saja kutertawakan, lelucon macam apa pula ini. Utang kok begitu saja minta dihapuskan, dimoratoriumkan.

Tetapi karena desakan dari pemegang saham di imperium mesumku yang sudah mulai resah oleh tekanan dari kanan kiri, akhirnya untuk mereka yang utangnya sudah mencekik leher, apalagi yang bunganya saja sudah melebihi pokoknya, terpaksa aku harus hapuskan utangnya, tentu saja tidak semua. Melacur seumur hiduppun, utang itu tak akan pernah lunas. Nah beberapa yang penakut dan penurut, yang walaupun sudah kembang kempis tertimbun utang, dengan gengsinya tak mau meminta penghapusan utang.

Yah, aku sih asik-asik saja. Justru kepada mereka akan kugelontorkan utang  baru yang bukan hanya mencekik mereka, tetapi juga anak cucu mereka. Sehingga lengkap pulalah silsilah keluarga itu, keluarga pelacur. Pelacur hati nurani, pelacur yang masih sering ngomong masalah moral, pelacur yang ambigu, karena kadang kau lihat mereka sebagai pelacur tapi kadang pula kau lihat mereka berbicara sungguh-sungguh tentang kehidupan asketik, tentang surga dan neraka, bahkan tentang Tuhan.
You Feed My Desire – Love, Sex & Poetry
Sumber: writing holistically
Apabila mereka sudah masuk perangkapku, akan kuselenggarakan training khusus bagaimana memuaskan pelanggan. Tentu saja tidak semua harus mereka tahu, yang paling penting adalah pengetahuan dasarnya saja. Aku akui, aku cukup pelit berbagi ilmu dengan mereka, aku ajari mereka bagian tertentu dari Kama Sutra, tentunya yang hanya berkaitan dengan posisi yang berjumlah 64 itu. Selebihnya yang justru lebih penting, bagaimana mencari kebahagiaan dengan jalan menjalin hubungan yang baik antara pria dan wanita sengaja aku sembunyikan. Apalagi tentang Kama Sashtra[1], aku sembunyikan sama sekali. Biarlah bagi mereka seks hanyalah sebatas seks, menjadi tujuan bukan dijadikan alat.

Tentu bisnis begini banyak maju mundurnya, tapi aku pantang menyerah, perangkat hukum pun sudah aku jarah demi mengamankan posisi kami. Dan tentu kupoles dengan aksi-aksi berbau sosial yang lebih bertujuan untuk menimbulkan imago bersih. Aku dan Imof telah mempunyai tugas masing-masing, kami saling memperkuat satu sama lain. Namun akhir-akhir ini Imof tampak uring-uringaan, aku dengar banyak kritik tajam mengalir ke meja kerjanya berkaitan dengan saran-sarannya akhir-akhir ini, yang ketahuan justru membuat pelacur-pelacur itu semakin tergantung padanya. Membuat mereka semakin malas, membuat mereka semakin dalam terjerat dalam dunia hitam. 

Kutelepon dia malam kemarin, sekedar menanyakan kabarnya. Aku bilang tidak usah terlalu dipikirkan apa yang dibilang oleh para aktivis LSM itu, mereka memang sudah pekerjaannya berkoar semacam itu. Mau itu namanya Chomsky, Geldof, Bono, Hysham, Prahalad, atau tai kucing, tidak usah terlalu dimasukkan hati.

Tak terasa, sudah larut malam. Mengurusi tetek bengek perusahaan ini sungguh kadang-kadang aku rasa melelahkan. Bukan saja harus bersaing dengan perusahaan yang terjun di bisnis permesuman ini, tetapi juga harus pasang mata dan telinga akan teriakan dari masyarakat yang dikompori oleh para aktivis LSM. Semakin hari, semakin aneh-aneh saja tuntutan para cecunguk LSM itu. Belum lama mereka berkoar tentang corporate responsibility, sekarang sudah lebih berani lagi menuntut corporate accountability. Bagaimana perusahaanku akan menguntungkan jika harus juga accountable atas kerusakan dan kerugian yang disebabkan oleh pihak ketiga yang menjalin bisnis dengan perusahaanku.

Sudah waktunya untuk tidur, besok pagi akan kucari gadis-gadis seperti itu lagi. Dan juga akan kukunjungi para pelacur yang sudah setia menjadi anak buahku, besok ada dua yang akan kukunjungi, gadis hitam manis bernama Nigeria, dan juga seorang gadis yang melacur hanya sebagai hobby, Saudi Arabia namanya. Aku akan melanglang dari benua ke benua, dari Asia sampai Afrika, dari Amerika Selatan sampai Eropa Timur. Menipu dunia dengan uang dan retorika, menyebarkan demokrasi dengan anarki, memesumi moral dan etika. Oh.. betapa gampangnya dunia kukuasai.


___________________________
Penggubahan Perempuan-perempuan yang Ingin Diperkosa




[1]Secara harfiah berarti Pengetahuan tentang Kebahagiaan, adalah kitab klasik dimana Kama Sutra hanyalah salah satu bagian kecilnya.

Misi Sakral - Membebaskan Tuhan Dari Penjara

Aku melihat dari kejauhan samar-samar tuhan terlihat sedang menangis, terduduk dengan muka sendu kelabu, kasihan juga dia. Hidup dari balik penjara sudah begitu lama ia jalani, sekalipun tidak boleh keluar untuk sekedar menghirup udara segar kebebasan. Penjara itu terbuat dari emas, berumbai-rumbai hiasan permata dan berlian, di sana-sini bertaburan hiasan dengan tulisan berbahasa Arab, Sanskerta, Pali, Ibrani, Parsi, dan berbagai tulisan dari seluruh penjuru dunia.
Photography Art Sad Cool Home, Sumber: rebloggy
Aku dari sini hanya bisa melihat dari kejauhan, sekedar curi lirik mata, karena penjagaan penjara yang begitu ketat. Berbagai macam orang menjaga penjara tersebut, di ujung, aku melihat seorang berjubah putih dengan salib di dadanya, kemudian di sampingnya ada seorang dengan swastika dan garis putih dikeningnya, tidak kalah seramnya, diseberang ada seorang bersurban memegang pedang dengan tulisan "Lailahaillallah".

Berbagai macam pula tanda-tanda di sekujur tubuh mereka, ada yang menggunakan jas FPI, MUI, Wahabi, Klu Klux Klan, Barathiya Janatha, Kach Kahane Chai, dan tak ketinggalan pula Advent dan Mormon. Wajah-wajah mereka tampak begitu seram, aku sendiri pun tak berani menatapnya. Aku mendengar bahwa siapa saja yang berani mendekati tuhan tanpa izin mereka, akan dilibas habis. Karuan saja, orang-orang pada takut bukan main. Persenjataan mereka begitu lengkap, mulai dari yang sederhana hingga detonator senjata kimia.

Tapi bukan aku namanya kalau tidak berani mendekati penjagaan seketat itu, Diam-diam aku berusaha mengadakan hubungan dengan tuhan. Awalnya sangat sulit, membuat aku pusing kepala memikirkan bagai mana caranya dapat bertemu tuhan. Namun setelah berpikir panjang, akhirnya kutemukan caranya, aku berpura-pura menawarkan makanan ransum buat para penjaga itu. Awalnya mereka curiga, diselidikinya aku dengan mata tajam seluruh tubuhku, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sesudah puas memelototi dan menilai, kemudian mereka pun menggeledah, tidak puas sampai di situ itu, isi dompetkupun di geledah, pesan-pesan medsos di hp-ku juga dibaca satu- persatu dengan teliti.

Melalui proses yang lama itu akhirnya mereka setuju untuk membeli makanan ransum yang kubuat, dengan persyaratan ketat, sebelum mereka bersedia memakannya, makanan itu harus dicoba dulu olehku, dan kemudian oleh beberapa binatang yang sengaja dipelihara untuk mencoba makanan itu. Keamanan berlapis semacam itu memang sengaja diciptakan oleh mereka. Bahkan saking ketatnya, tidak ada satu patah katapun dari tuhan yang boleh keluar tanpa melalui mulut mereka terlebih dahulu.

Suatu ketika aku berkesempatan mendekati tuhan ketika mereka semua sedang istirahat makan siang. Setelah kulihat kanan kiri, aku langsung melesat mendekati penjara tuhan.

" Sssst, tuhan, apa kabarmu?" tuhan hanya menggeleng sambil menghapus air matanya. Kelihatan dia ingin mengatakan sesuatu tetapi suara tidak keluar dari kerongkongannya.

"Eh tuhan, apa yang kau inginkan, mungkin aku bisa membantumu?" kembali tuhan menggeleng, wah payah sekali ini.

"Ngomong dong, mumpung gak ada orang nih" tuhan menggeleng lagi. Mungkin karena terlalu lama ia tidak berkomunikasi sama sekali, tuhan ternyata sudah bisu. Wah, aku jadi pusing tujuh keliling. Akhirnya aku berinisiatif memberikan pulpen dan kertas.

"Tulis apapun yang kau inginkan" Setelah menunggu beberapa detik dengan cemas, tuhan kemudian menyelesaikan tulisannya. Kertas itu ia lipan kemudian diserahkannya kepadaku. Aku segera pergi dengan sangat tergesa agar tidak ada penjaga yang tahu. Sudah tak sabar rasanya aku ingin segera ke rumah, penasaran sekali apa yang telah dituliskan tuhan di kertas itu.

Di sepanjang jalan, sangking tak sabarnya, aku segera membuka lipatan kertas itu. Aku begitu kaget membaca isinya.

"Bebaskan aku, sekarang atau seluruh bumi akan menyesal" Berulang-ulang aku membaca kalimat itu, "bebaskan aku", aku jelas mengerti, tapi yang mebuatku bingung adalah kalimat "sekarang atau seluruh bumi akan menyesal". Tentu saja tidak gampang membebaskannya dari penjara itu, dia sendiri pasti tahu itu. Tapi nada kalimatnya mengancam. Kalau tidak maka akan terjadi sesuatu yang besar sepertinya. Lagian dia memberinya kepadaku, apalah arti seorang aku ini jika dikasih tugas seberat itu. Membebaskan tuhan dari penjara, terdengar aneh dan seram, apalagi tugas itu dibebankan kepadaku. Disisi lain aku merasa gembira, karena itu adalah tugas mulia.

Malamnya aku jadi tidak bisa tidur, tidak bisa memejamkan mata barang sedikit. Jelas tugas ku ini sangat berat, taruhannya nyawa. Manusia-manusia yang menjaga penjara itu memang manusia kolot yang merasa benar sendiri tanpa bisa melihat bahwa kebenaran itu relatif.

Apapun alasanku untuk mendekati tuhan pasti akan dibantai oleh dogma-dogma kaku yang mereka anut. Bagi mereka kebenaran itu final, dan celakanya lagi kebenaran tuhanpun telah disamakan dengan kebenaran manusia. Semakin berat lagi tugasku ini, karena yang menjaga tidak sedikit, dengan persenjataan lengkap. Sepanjang malam selain berpikir keras untuk menemukan cara membebaskan tuhan, aku juga berharap agar tuhan tidak benar-benar serius dengan ancaman yang ia tulis. Aku tahu dia marah melihat manusia-mmanusia itu, tapi dia kan pengasih dan penyayang, mustinya dia mengasihani mereka yang mungkin saja belum terbuka hati dan pikirannya. Manusia-manusia yang belum bisa mengalahkan nafsunya, manusia-manusia yang mencampur adukkan kebinatangan dan ketuhanan.

Sebenarnya apa pula peduliku mau membebaskan tuhan, toh aku sudah hidup dengan tenang walaupun dia terkurung di sana. Tapi rasa kasihanku mungkin masih lebih besar daripada rasa ketidakpedulianku. Terpenjaranya tuhan mempunyai akibat yang tidak sedikit, mulai dari gontok-gontokanan, adu jotos, kalau perlu perang, yang ujung-ujungnya penderitaan dan hancurnya peradaban. Jadi aku berkesimpulan bahwa membebaskan tuhan aku anggap perlu, agar dunia ini lebih damai, indah, dan nyaman ditinggali. Tapi sekali lagi bukan karena aku peduli sama tuhan, tapi karena aku kasihan sama dia.

Pagi harinya, sebelum ayam berkokok, aku sudah sibuk mempersiapkan beberapa alat yang kupikir akan mampu mengecoh para penjaga itu. Niatku sudah kuat dan mantap, dengan resiko apapun yang nanti akan terjadi, aku akan berusaha mencoba membebaskan tuhan. Kusiapkan gergaji, pisau, tali, dan juga palu yang rencananya akan kugunakan untuk membuka pintu penjara, sedangkan untuk mengecoh penjaga itu, aku sudah menyiapkan bom asap, yang hanya akan membuat mereka pingsan saja. Aku akan mencoba menghindari kekerasan sejauh mungkin, karena jika tidak, maka aku sama saja dengan mereka, suka adu otot bukan adu otak. Jam tiga malam ketika penjagaan sedang lengang, dengan sedikit tutup muka untuk menyembunyikan wajah tampanku, aku berjalan dengan degub jantung yang kencang menuju penjara tuhan. Jika aku mati karena misi ini, aku anggap itu sebagai baktiku untuk mewujudkan rahmatallil alamin, rahmat bagi semesta. Dan jika aku terluka, aku harap darahku adalah saksi bahwa hidup ini memang tidak mudah, perjuangan tiada akhir.

Jalan setapak masih kosong, orang-orang terlelap tidur. Dingin menyanyikan kidungnya diiringi oleh dewi malam, tapi kutegapkan langkahku. Jarak yang tidak terlalu jauh dari rumahku ke penjara tuhan menjadi serasa jarak antar galaksi. Hanya bayangan akan senyum anak-anak kecil dan ibu-ibu tua yang bahagia dalam damai yang menghangatkanku.

Rembulan tidak menampakkan diri, mungkin ia takut menjadi saksi peradaban yang sebentar lagi akan ku toreh. Dari kejauhan tampak lampu hingar dari penjara, aku sengaja mengambil pintu dari arah samping. Aku ingin memadamkan sistem listrik seluruh penjara itu dulu, dan setelahnya baru kulempar bom asap. Ternyata memang sepi di samping penjara, segera aku menyelusup ke sistem pusat listrik itu. Kutaruh bom waktu kecil dan secepat kilat kutinggalkan lagi. Aku segera bersembunyi di rimbun semak-semak di depan penjara, setelah kurasa waktunya tepat , kupakai masker dan kuledakkan bom itu.

Sebentar saja, seluruh penjara menjadi gelap, aku segera berlari sekencang-kencangnya menuju pintu depan penjara. Kulemparkan bom asap yang kusiapkan, beberapa waktu terdengar suara gedebag-gedebug, sesudah itu sunyi senyap. Setelah kurasa aman, kunyalakan senter yang sudah ku siapkan. Aku menuju pojok ruangan dimana sistem keamanan penjara dikendalikan. Kucari sebentar di situ, dan dengan mudah kutemukan kunci utama penjara yang kecil panjang itu. Aku sudah mencari tahu letak kunci itu sejak lama, jadi tak terlalu sulit menemukannya.

Begitu mendapatkan kunci yang ku cari, sebuah kunci yang bertuliskan ayat-ayat dari kitab suci, aku mengendap-endap  menuju penjara tuhan. Kembali lagi aku terbayang tangis tuhan di dalam penjara itu. Penjara yang mewah namun merupakan bukti peradaban narsis.

Asap masih mengepul, sepanjang lorong tergeletak tubuh beberapa penjaga penjara yang sedang pingsan oleh asap yang kutebar. Aku sudah tersenyum-senyum sendiri, wah senang sekali bisa membebaskan tuhan dari penjara. Penjara yang sudah seumur dengan peradaban dunia, penjara yang telah diciptakan oleh nenek moyang dan diteruskan sampai sekarang.

Semakin dekat, semakin hatiku berbunga-bunga. Kutepis asap perlahan-lahan untuk mempertajam pandanganku. Hah!! penjara itu sudah kosong, tuhan telah membebaskan dirinya sendiri. Hanya kutemukan tulisan tuhan di dinding penjara.

"Pembebasan tuhan memang perlu, tapi pembebasan manusia lebih perlu lagi"

_______________
Penggubahan Membebaskan Tuhan dari Penjara.